Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pencegahan Kekurangan Gizi Kronis (Stunting) Dalam Permendes 7 /2020

download image
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis teruta Pencegahan Kekurangan Gizi Kronis (Stunting) Dalam Permendes 7 /2020

Stunting yakni kondisi gagal berkembang pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis utamanya pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kondisi gagal berkembang pada anak balita disebabkan oleh kurangnya asupan gizi yang berulang, jerawat berulang, dan pola latih yang tidak mencukupi khususnya dalam 1.000 HPK. Anak tergolong stunting bila lebih pendek dari tolok ukur umur anak sebayanya. Standar panjang atau tinggi badan anak mampu dilihat pada buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).

Balita dan/atau bayi dibawah usia dua tahun (Baduta) yang mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak optimal, menyebabkan anak menjadi lebih rentan kepada penyakit dan di masa depan dapat beresiko pada menurunnya tingkat produktivitas. Pada akibatnya secara luas stunting akan mampu menghambat kemajuan ekonomi, mengembangkan kemiskinan dan memperlebar ketimpangan.

Beberapa faktor yang menjadi penyebab stunting mampu digambarkan sebagai berikut:
  1. praktek pengasuhan anak yang kurang baik;
  2. masih terbatasnya layanan kesehatan untuk ibu selama periode kehamilan, layanan kesehatan untuk Balita/Baduta dan pembelajaran dini yang berkualitas;
  3. masih kurangnya saluran rumah tangga/keluarga ke masakan bergizi; dan
  4. kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi.
  • Penggunaan Dana Desa diprioritaskan untuk mengatasi kelemahan gizi kronis (stunting) lewat aktivitas sebagai berikut:
  1. Pelayanan Peningkatan Gizi Keluarga di Posyandu berupa aktivitas:  a. penyediaan masakan bergizi untuk ibu hamil; b. penyediaan makanan bergizi untuk ibu menyusui dan anak usia 0-6 bulan; c. penyediaan makanan bergizi untuk ibu menyusui dan anak usia 7-23 bulan; d. penyediaan masakan bergizi untuk balita;
  2. menyediakan dan menentukan saluran kepada air higienis;
  3. menyediakan dan menentukan jalan masuk terhadap sanitasi (jamban keluarga);
  4. penyuluhan konsumsi masyarakat kepada pangan sehat dan bergizi,
  5. menawarkan terusan kepada layanan kesehatan dan Keluarga Berencana (KB);
  6. penyuluhan pentingnya pengasuhan anak kepada pada orang renta;
  7. penyuluhan pendidikan gizi masyarakat;
  8. menunjukkan pengetahuan tentang kesehatan seksual dan reproduksi,serta gizi terhadap sampaumur;
  9. memajukan ketahanan pangan dan gizi di Desa;
  10. pelayanan kesehatan lingkungan (mirip penataan air limbah, dan lain lain)
  11. derma biaya perawatan kesehatan dan/atau pendampingan untuk ibu hamil, nifas dan menyusui, keluarganya dalam merawat anak dan lansia;
  12. penyuluhan pasca persalinan, kunjungan nifas, dan kunjungan neonatal;
  13. penyuluhan tunjangan imunisasi, stimulasi pertumbuhan anak, peran ayah dalam pengasuhan, dan lain lain;
  14. kampanye kependudukan, keluarga berniat dan pembangunan keluarga;
  15. pelatihan kader kesehatan masyarakat untuk gizi, kesehatan, air bersih,  sanitasi, pengasuhan anak, stimulasi, pola konsumsi dan yang lain; dan
  16. pembinaan kader untuk melakukan pendampingan dalam memberi ASI, pengerjaan kuliner pendamping ASI, stimulasi anak, cara menggosok gigi, dan basuh tangan pakai sabun untuk 1000 hari pertama kehidupan.
Download: Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 7 Tahun 2020 ihwal Perubahan Kedua Atas Permendesa PDTT 11 Tahun 2019 perihal Prioritas Penggunaan Dana Desa tahun 2020. DISINI
download image