Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Syarat Dan Kualifikasi Pencalonan Keuchiek

download image
Syarat dan Kualifikasi Pencalonan Keuchiek Syarat dan Kualifikasi Pencalonan Keuchiek

Calon Keuchiek diharuskan ialah seorang yang mempunyai pengetahuan intelektual dan gaya kepemimpinan yang dapat mempengaruhi serta mengajak masyarakat untuk inovatif, kreatif dalam bermasyarakat. Adapun ketentuannya ialah ;
  1. Warga negara republik Indonesia, 
  2. Betaqwa kepada Tuhan yang maha esa, 
  3. memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melakukan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta menjaga dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika; d
  4. berpendidikan terendah simpulan sekolah menengah pertama atau sederajat, 
  5. berusia paling rendah 25 (dua puluh lima) tahun pada ketika mendaftar; 
  6. bersedia dicalonkan menjadi Keuchiek; 
  7. terdaftar sebagai masyarakatdan bertempat tinggal di Desa setempat paling kurang 1 (satu) tahun sebelum pendaftaran;
  8. tidak sedang menjalani eksekusi pidana penjara;
  9. tidak pernah dijatuhi pidana penjara menurut putusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap karena melaksanakan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun atau lebih, kecuali 5 (lima) tahun setelah selesai menjalani pidana penjara dan menginformasikan secara jujur dan terbuka terhadap publik bahwa yang bersangkutan pernah dipidana serta bukan selaku pelaku kejahatan berulang-ulang; 
  10. tidak sedang dicabut hak pilihnya sesuai dengan putusan pengadilan yang sudah memiliki kekuatan aturan tetap; 
  11. bertubuhsehat; 
  12. tidak pernah sebagai Keuchiek selama 3 (tiga) kali kurun jabatan; dan
  13. syarat lain yang dikontrol dalam perda.
Sebagai kandidat seorang pemimpin yakni orong yang mampu bergerak lebih awal, melapori, mengarahkan fikiran dan usulan anggota organisasi, membimbing, menuntun, menggerakkan orang lain lewat pengaruhnya, menetapkan tujuan organisasi, memotivasi anggota organisasi biar sesuai dengan tujuan organisasi dan mesti mampu mempengaruhi sekaligus melaksanakan pengawasan atas pikiran, perasaan, dan tingkah laris anggota kalangan yang dipimpinnya. 

Untuk merealisasikan dan melakukan kiprahnya sebagai seorang pemimpin, dipersyaratkan mempunyai sikap dasar dan sifat-sifat kepemimpinan, teknik kepemimpinan dan gaya kepemimpinan sesuai keadaan lingkungan organisasi, pengikut serta situasi dan kondisi yang melingkupi organisasi yang dipimpinnya serta ditopang oleh kekuasaan (power) yang sempurna.

 Sebaliknya, mempesona untuk diamati sesungguhnya yang mendorong golongan warga desa yang kepincut dan semangat dalam menyemarakkan pesta demokrasi desa tersebut, khususnya memperjuangkan pencalonan seorang figur, sesuai dengan kenyataannya bersifat tarik-mempesona, dan pada gilirannya lewat proses ini warga akan mengenal lebih jauh perihal “otentisitas budbahasa” eksklusif calon Keuchiek yang bersangkutan Dimaksudkan dengan hal terakhir ini yakni, sejauhmana praktek-praktek kehidupan sehari hari seorang kandidat Keuchiek dinilai warga merefleksikan norma adab sosial yang ada. 

Dalam konteks yang lebih spesifik kajian terhadap kejadian Pilkades selama ini memiliki arti penting lain ialah mengungkap sampaimana kandidat Keuchiek mempunyai otentisitas sopan santun, utamanya dalam persepsi warga desa yang bersangkutan. Artinya, apakah seorang kandidat benar-benar mencerminkan pribadi yang ‘sesuai’ dengan cirri-ciri kepemimpinan ideal mirip yang diinginkan warga dari fatwa tradisi atau etika istiadat mereka. 

Gagasan tersebut secara lazim mengidealisasikan kepemimpinan sebagai kemampuan memberikan pengayoman pada kehidupan warga dan ikut memelihara dan menguatkan ikatan guyub (tali solidaritas) antar warga dan menjaga kelangsungan hidup berkelompok warga yang menjadi pengikutnya. Maksud kajian tersebut sejajar dengan realita bahwasannya kedudukan Keuchiek secara tradisional sebetulnya berakar pada ikatan-ikatan pengelompokkan sosial. 

Implikasinya opsi warga atas seseorang untuk mencalonkan menjadi Keuchiek senantiasa perlu kita lihat dan rasakan selaku perwujudan upaya warga memilih penyalur dan pembela aspirasi mereka. Dalam relasi inilah menjadi penting bagi kita untuk juga menelaah citra perihal bagaimana wujud sebetulnya ikatan-ikatan komunal dan ikatan ikatan budpekerti yang hidup di komunitas setempat
download image